Tjinderamata Soerabaia jang paling tersohor
Moeka
Tempat Bertemunya Banyak Ideologi PDF E-mail
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo   
Minggu, 26 Oktober 2008

Image
Rumah di Peneleh VII
Rumah mungil Peneleh VII telah lama mengubur sejarah Indonesia. Kini suasanya sepi. pintunya selalu tertutup, jendelanya terbuka sebagian, hanya untuk sirkulasi agar tidak pengap.

Bayangkanlah suasananya di awal abad lalu. Sejak 1913 rumah ini hampir tidak pernah sepi, asap rokok mengepul lewat sela-sela kisi kisi jendela. Setiap malam, puluhan orang silih berganti datang, Bertamu ke sang tuan rumah hingga larut. Bahkan sampai azan dari masjid kuno di belakang rumah ini meraung.

Saya mengajak Anda berimajinasi, membayangkan kembali hiruk-pikuk orang orang besar di bilik kecil ruang tamu rumah ini.

Isi rumah itu begitu menggetarkan saat itu. Sang penghuni, Hadji Omar Said Tjokroaminoto, dengan motor politiknya Sjarekat Islam (SI) menjadi organisasi yang paling dicari penguasa Hindia Belanda. Dan rumah ini tidak hanya menjadi tempat tinggal, sekretariat utama SI diyakini berada di tempat ini pula.

Ide-ide awal pemberontakan sejatinya keluar dari orang-orang di dalam rumah ini. begitu banyak tokoh yang sempat duduk di ruang tamu ukuran 5 meter persegi itu. Ketika Bung Karno muda hanya bisa nguping di balik tembok, karena usinya baru 16 tahun, para aktivis yang lebih matang usianya saling adu ide di dalam rumah ini.

Sejarah mencatat banyak aktivis dari banyak later belakang kultural yang singgah di tempat ini sepanjang kurun waktu 1905 -1930. Antara lain KH Agus Salim, (sang pendiri Muhamadiyah), Tan Malaka, (sosok misterius yang sempat mewakili Hindia Belanda dalam Komunis Internasional), Subandrio, (tokoh sosialis), Abdul Gani (Tokoh nasionalis), Setiyobudi, Dr Soetomo, Ki Hajar Dewantoro, Dowes Dekker, Alimin, Semoen. Dua nama terakhir ini  kala itu menjadi aktivis SI yang berpikiran kiri, menyampal dengan SI Semarang dengan faksi ‘SI merah’. Terakhir  pecah dan bergabung dengan perjarekatan Komunis Indonesia (PKI).

Dari rumah ini, gagasan perjuangan menjelma menjadi gerakan politik pertama di Hindia Belanda. Pak Tjokro mengubah Sjarekat Dagang Islam menjadi SI pada Mei 1912. Delapan bulan kemudian, pada 26 Januari 1913 digelar Kongres SI pertama di Kebun Bintang Surabaya atau Dierentuin.

Surabaya kembali menjadi tuan rumah Kongres SI ketiga pada 1918 dan Kongres SI ke empat pada 1919. SI yang pada 1923 berubah menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) juga menggelar kongres luar biasa di Surabaya pada 24-26 Desember 1924.
Perkembangannya demikian pesat, bahkan bisa dibilang mencengangkan. Medio 1912 jumlah anggota SI 35.000 orang. Pada 1919 membengkak menjadi 2.000.000 orang. Sementara cabang-cabangnya telah menyebar di hampir seluruh wilayah Hindia Belanda. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa SI merupakan organisasi politik nasional pertama di Indonesia
Di rumah ini itu tidak ada lagi perabot. Namun yang masih bisa tersisa adalah foto tokoh tokoh yang pernah mampir  di rumah mungil ini. Bung Karno, pendiri kultur nasionalis masih indekos, dengan biaya 11 gulden per bulan di kamar atas dengan gladak kayu yang pengap. Masih kerap mampir beli buku di toko buku peneleh di depan rumah ini.

Image
toko buku di depan rumah kos langgan Bung Karno

Imma Nadima Simbolon yang diserahi kunci rumah ini mengatakan sejatinya Pak Tjokro lahir di Jogjakarta pada 16 Agustus 1883. Sekitar awal tahun 1900, ia hijrah ke Surabaya untuk berdagang. Di Surabaya ia menempati rumah di Peneleh Gang VII. Pada 1931 ia kembali ke Jogja dan wafat 17 Desember 1934.

Pak Tjokro mengubah Sjarekat Dagang Islam menjadi SI pada Mei 1912. Delapan bulan kemudian, pada 26 Januari 1913 digelar Kongres SI pertama di Kebun Bintang Surabaya atau Dierentuin.

Surabaya kembali menjadi tuan rumah Kongres SI ketiga pada 1918 dan Kongres SI ke empat pada 1919. SI yang pada 1923 berubah menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) juga menggelar kongres luar biasa di Surabaya pada 24-26 Desember 1924.


 
< Sebeloemnja   Berikoetnja >
 

Koleksi Atjak


P21


KODE 608


Serie Simpangsche Societeit


Serie Werfstraat atawa Jl Kalisosok


KODE 614


KODE 624


P07


P17


Tjorong Pelanggan


Soeara Pelanggan, Soeara Radja