Tjinderamata Soerabaia jang paling tersohor
Moeka arrow Pelesiran arrow Sungai Jagir Sungai Buatan
Sungai Jagir Sungai Buatan PDF E-mail
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo   
Sabtu, 31 Januari 2009

Image
Ujung kanal buatan di Jagir 2009
Tahukah Anda bahwa Surabaya pernah membangun sungai buatan untuk menghalau banjir sebelum Jakarta sukses membangun kanal barat pada 1922. Jika anda sekarang melihat Sungai Jagir yang lebar dan panjangnya dari pintu air Jagir hingga Medokan Ayu,  Itu bukannya sungai alam ciptaan Tuhan namun Sungai buatan manusia. Mari ikuti kisahnya.

Semula Surabaya dikenal kota yang kerap banjir akibat air kiriman dari Brantas. Aliran Brantas yang terpecah antara Prorong dan ke Milirip semuanya selalu meluap.Yang masuk Mlirip seluruhnya mengalir ke Gunungsari dan tembus ke Kalimas dan ke Oejoeng Perak.

Namun para pertengahan Abad 18 Surabaya lantas dikelola layaknya kota kota di Belanda yang awalnya juga dihantui banjir. sejak saat itulah kota dagang tersibuk di Hindia Belanda ini dijuluki Amsterdam from the east alias Amsterdam dari timur oleh para petualang Eropa akibat bagusnya sistem pengelolaan air.

Penjajah Belanda sengaja menata kota ini mirip dengan Amsterdam, kota yang sebagian besar daratannya di bawah permukaan laut.  Sejumlah proyek pengairan raksasa dibangun Belanda agar kota ini nyaman ditinggali.

Namun  yang paling kontroversial adalah proyek menyudet Kali Surabaya agar tidak masuk Kalimas. Proyek itu digarap pada 1856. Belanda membangun sungai baru dengan nama proyek Kanaal Wonokromo. Inilah proyek membuat terusan, alias menyudet sungai yang pertama di Hindia Belanda.

Semula rute Kali Surabaya dari Gunungsari mengalir ke Dinoyo dengan nama Kalimas dan bermuara ke selat Madura di Tanjung Perak. Akibatnya kawasan Simpang yang merupakan kota peristirahatan pejabat kolonial era 1800an kerap banjir.

Sehingga perlu dipikirkan menyudet sungai dengan membuat terusan di sungai utama Surabaya.

Semula sungai yang berhulu di Mlirip itu membujur dari Gunungsari menuju timur, namun alirannya menikung terapt di Wonokromo, alirannya menikung menuju utara dan memasuki Kalimas di Dinoyo dan Ngagel danb berakhir di selat Madura.

Image
Dam Jagir 1929
Dan di tikungan inilah kemudian dibuat sudeten agar arus air Brantas yang melewati Mirip terus ke arah Timur. Maka sejak 1856 itu ratusan ribu pribumi dikerahnya menggali saluran sungai yang dalam dan lurus dengan tanggul yang tinggi. Sungai itu memajang hingga Medokan Ayu yang tembus ke hutan bakau di pantai timur. panjangnya kira-kira lima kilometer.

Mantan pejabat Dinas PU Pengairan Pemprov Jatim, Ir Oerip Soedraman, beberapa waktu lalu kepada saya mengatakan catatan sejarah Banjir kanal Jagir itu sekarang “Hilangnya sejak kantor Dinas PU dipindah tahun 1980-an dan buku kuno di perpustakaan raib,” katanya.

Ini berbeda dengan kisah proyek kanal banjir barat yang masih mencatat nama sang penggagas Herman van Breen.

Setelah kanal buatan itu rampung di bangun, Belanda membuat beberapa pintu air pengendali banjir agar air bah tidak ke Surabaya. Pertama tama di buat dam Milirip Mojokerto. agar air dari Brantas tidak semuanya masuk Mlirip dan ke Surabaya. Namun dipisahkan pintu air dan dalam sab sab kanal untuk irigasi. Sebagian besar dialirkan ke Sungai Porong.

Belum puas, dibangun dua pintu air di selatan Surabaya kala itu. Yaitu di ujung utara Kalimas dengan nama Dam Dinoyo dan di ujung banjir Kanaal Wonokromo dengan nama Dam Jagir atau Pintu air jagir yang memiliki bangunan pintu air cantik ini.

Inilah rancang bangun itu. Jika kelak arus air deras dari hulu, dam Dinoyo ditutup dan dam Jagir di buka. Sehingga air kiriman tidak masuk kota dan langsung terbuang ke timur. Namun di saat cuaca normal, Dam Dinoyo dibuka, karena di timur kota melalui Dam Gubeng, kawasan Darmo, Ngagel dan Karang Menjangan adalah lahan pertaniuan yang subur yang butuh air irigrasi.

Karena sudetan itu dan dua pintu air inilah yang mengendalikan Surabaya sehingga selama seratus tahun terakhirpula Kalimas tidak pernah meluap dan tidak juga pernah kekeringan. terakhir membangun dam Gubeng dan Gunungsari antara tahun 1889 sampai 1899. Dua dam ini untuksuplai air persawahan. Dam Gunungsari menuju lumbung beras Ketintang dan dam Gubeng ke derah sawah Kareangmenjangan dan sawah Pacarkeling.

Yang unik semua dam ini dilengkapi pintu buka tutup yang bisa dilalui perahu dari Kalimas ke Kali Surabaya pulang bolak balik.

 

 
< Sebeloemnja   Berikoetnja >
 

Tjorong Pelanggan


Soeara Pelanggan, Soeara Radja