Tjinderamata Soerabaia jang paling tersohor
Moeka arrow Pelesiran arrow Siola Berdiri Sejak 1877
Siola Berdiri Sejak 1877 PDF E-mail
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo   
Kamis, 16 April 2009
Image
Whiteaway Laidlaw 1924
Gedung Siola saat ini nyaris tidak memiliki roh, bangunannya tidak berpenguhuni lagi dan banyak ornamen gedung rusak. Padahal inilah pusat perbelanjaan terlengkap pertama di Surabaya saat berdiri Perjalanan gedung ini mengalami pasang surut, pernah jaya di abad 18, namun hancur karena menjadi korban perang 10 November 1945, berjaya kembali pada 1970-an dan kini mati lagi.mati lagi. Didirikan tahun 1877 oleh seorang pemodal asing asal Inggris, Robert Laidlaw (1856-1935) menjadi pertokoan pertama dan terbesar di Hindia Belanda. Pengusaha Inggris itu membeli sebidang tanah di pintu masuk pojok Jl Tunjungan. kala itu tunjungan menjadi setra perdagangan baru di Surabaya selatan. Dia mendirikan sebuah pusat perkulakan nama Whiteaway Laidlaw & Co. Kala itu Surabaya menjadi pusat perdagangan tersibuk di Hindia dan bisa disejajarkan dengan Singapura. Penduduknya juga lebih besar ketimbang Batavia sehingga pusat grosir ini menjadi pelengkap di kota sesibuk Surabaya. Di Surabaya, Laidlaw mendirikan pusat grosir dan eceren paling lengkap pasa zamannya. Meskipun dikenal sebagai pedagang tekstil, di dalam gedung ini ternyata tidak hanya menjual kain dan baju. Namun apapun jenis barang-barang impor dari dari Inggris bisa ditemui di tempat ini. Plang yang ditulis memanjang di begian depan bangunan dengan huruf kapital terbaca Het Engelsche Warenhuis, yang artinya Toko serba ada Inggris. Laidlaw dikenal sebagai pemodal besar sektor ritel terlengkap. saat itu Laidlaw juga dikenal di sektor perbankan dengan bank bernama Whiteaway Laidlaw Bank. Mungkin saat ini kebesarannya bisa disejajarkan dengan peritel dunia Carrefour atau Hypermart. Hingga 1900-an Laidlaw sudah menguasai pasar ritel ada di Rropa dan asia timur dengan 20 cabang. Mulai dari Calcutta di India, Bangkok di Thailand Singapura, Rangoon Vietnam, hingga Kuala Lumpur Malaysia. Whiteaway Laidlaw di setiap tempat selalu berdiri di lokasi paling strategis. menempati bagian sudut dan di ujung jalan terkenal. Karakter bangunan yang dirikan sama dengan ciri satu kubah di ujung. Namun toko Whiteaway Laidlaw ini akhirnya pamornya meredup setelah sang pemilik, Laidlaw yang meninggal dunia pada 1935. Bisnis ritelnya di seluruh dunia juga ikut gulung tikar termasuk di Surabaya. Namun bisnis banknya tetap berkibar sampai sekarang di Inggris. Belakangan akibat gulung tikar, pemodal Jepang mengambil alih gedung ini dan membuka Toko bernama Chiyoda. Isinya yang dujal sama dengan pendahulunya. namun yang paling banyak tidak lagi tekstil tetapi tas koper dan sepatu.
Image
wujud gedung setelah dibom Inggris 1945
Image
Whiteaway Laidlaw 1932
Bahkan begitu tersohornya Chioda, sebagai pusat tas koper dan sepatu, sampai semua toko di sekitarnya pun berdagang barang dagangan yang sama. Bahkan sampai kini di Jl Praban masih menjadi pusat sepatu. Dulu di Jl Geblongan menjadi pusat penjualan tas koper dan servis koper. saat ini hanya tinggal satu yang tersisa. Namun Toko Chioda hanya singkat. saat masa revolusi toko ini tutup. Di atas toko ini menjadi pusat konsentrasi pejuang republik menjatuhkan diri dengan bom setiap tank Inggris yang masuk Tunjungan. Saat itu gedung ini dikenal sebagai tempat jibaku. sampai kemudian gedung ini dibom Inddir. yang tersisa adalah tembok luar sementara atap hingga lantainya hancur. Paska revolusi, gedung ini mangkrak bahkan hingga 15 tahun lamanya. saat nasionalisasi aset aset asing 1950, gedung ini menjadi milik pemkot Sampai akhir 1950an ada lima pengusaha Surabaya berniat menghidupkan kejayaan gedung perdagangan ini. Mereka adalah Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem, dan Ang. Keempatnya kemudian membangun kongsi dagang dengan membuka toko ritel besar. Toko itu dinamanya SIOLA yang merupakan kependengan dari huruf depan masing-masing pemilik modal. tahun 1960-an SIOLA menjadi toko ritel terbesar di Surabaya. Namun tidak lagi terbesar se-Indonesia. Namun bangunan Siola hanya menyisahkan tembok ditutup plat besi. kubahnya sudah hancur karena bom. Siola bisa bertahan sampai 20 tahun. Namun belakangan pamor SIOLA mulai memudar di era 1980-an setelah Surabaya memiliki mal besar pertama di bekas Rumah Sakit Simpang bernama Delta Plaza. Belakangan mal mal lain tumbuh di pusat kota di antaranya Tunjungan Plaza dan THR Surabaya Mal. belakangan nafas SIOLA habis menghadapi persaingan pusat perdagangan raksasa. SIOLA sadar dirinya tidak lagi besar dan lengkap. Juga tren belanja masyarakat juga berubah. Karena merugi terus menerus SIOLA yang melegenda itu ditutup pada 1998. Saat itu gedung ini kembali mangkrak. pemkot merenovasi tampak depan gedung ini menjadi serupa dengan bangunan yang berdiri pertama kali. Kubah di bagian depan yang hancur karena dibom Inggris dibangun kembali meskipun bentuknya tidak mirip. ornamen depan juga dibuat semirip mungkin dengan bantuk lama. Cat depannya juga dibuat baru dengan warna lebih dinamis. Kemudian peritel Ramayana Department Store menyewa gedung ini dengan nama Ramayana Siola pada 1999. Namun pada tahun 2008 masa sewanya habis dan tidak diperpanjang lagi. sampai kemudian gedung ini kosong sampai sekarang.
Image
SIOLA sekarang yang mengkrak
 
< Sebeloemnja   Berikoetnja >
 

Tjorong Pelanggan


Soeara Pelanggan, Soeara Radja