| Siapa Mbah Bungkul Sebenarnya? |
|
|
| Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo | |
| Senin, 06 Oktober 2008 | |
![]() foto: ahmad haq Siapa Mbah Bungkul yang disowani Rahmat ini? Sulit sekali menemukan biografi utuh tentang Mbah Bungkul. Sulitnya menemukan sosok ini bahkan dibenarkan sejarahwan berderah Belanda era 1940-an mendiang GH Von Faber. Pendiri Museum Empu Tantular ini di dalam bukunya, Oud Soerabaia, (1931) mencatat kesan Bungkul dalam bahasa Belanda yang kira-kira terjemahannya demikian: Orang-orang tua melarang menceritakan apa pun tentang Bungkul ini. Pelanggaran terhadap larangan itu pasti diganjar hukuman. Si pelanggar akan diancam oleh jin, diisap darahnya oleh kelelawar, lehernya dipelintir dan sebagainya, demikian pula ibu, istri, dan anak-anaknya akan mendapatkan celaka. Masih banyak ancaman mengerikan yang ditulis Von Faber. Saat ini, paling banter mendapat penjelasan bahwa sosok ini adalah keturunan Ki Gede atau Ki Ageng dari Majapahit. lebih dari itu tidak ada. Saya menjahit sejumlah cerita lisan dari kisah sunan ini yang versinya bermacam-macam. Namun yang nearik adalah kaitannya dengan Rahmat sang Sunan yang tinggal di Ampeldenta. Tidak hanya singgah, Raden Rahmat juga mewarnai perjalanan hidup Sunan Bungkul. Sang sunan emula dikenal dengan nama Supa, tetua yang disematkan ‘titelnya’ Ki Ageng. Sewaktu masuk Islam, Ki Ageng Supa berganti menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Namun karena menghuni desa Bungkul, dia dikenal dengan Sunan Bungkul, seperti Raden Rahmat yang disapa Sunan Ampel karena menghuni desa Ampel Denta. Dari sekadar bertamu saat datang dari Trowulan, Rahmat yang menganggap Supa tetua adat di tlalah selatan Surabaya menjadikan tempat ini persinggahan pertama. |
| < Sebeloemnja | Berikoetnja > |
|---|