| Meratapi Robohnya CBZ Simpang |
|
|
| Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo | |
| Jumat, 30 Januari 2009 | |
|
Begitu sulit mencari foto foto RS Simpang sebelum dibongkar. Kalaupun ada juga hanya pagarnya karena fokus menjepret jalan Simpang abad silam. Padahal rumah sakit ini menyimpan sejarah panjang kolonialisasi di negeri ini. Rumah sakit ini dibangun oleh ambisi Gubernur Willem Herman Deandles dua abad silam. Dengan nama Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ) Simpang. Rumah sakit paling besar dan lengkap di Hindia Belanda kala itu, Bahkan Rumah Sakit dengan nama serupa di Batavia (sekarang RSCM. Red) baru dibangun 1919. Sebenarnya nama resminya Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting bij Simpang. Dibangun atas perintah Deandels 1808-1811. Saat itu CBZ simpang disiapkan sebagai rumah sakit aangkatan laut Belanda. Sebab sejak zaman Deandles-lah Surabaya disiapkan menjadi pusat kekuatan angkatan laut. Di seberang kompleks ini kelak berdiri tangsi Angkatan Laut Belanda Gubeng. Setelah merdeka menjadi markas KKO Gubeng dan belakangan menjadipusat perbelanjaan yaitu Grand City Surabaya. Pembanguan rumah sakit ini tidak dilakukan sekali saja. Pada 1808 itu didirikan bangunan batu secara sederhana. Hamparan lahan luas di pilnggir kalimas itu didirikan bangsal bangsal yang hanya menampung menampung sekitar 150 pasien. Sepuluh tahun kemudian ditambahi beberapa bangsal sehingga mampu menampung 200 pasien. Semua pasiennya adalah tentara Belanda. Saat itui seluruh penduduk Belanda di Surabaya adalah tentara. semuanya laki laki. baru ketika terusan suez dibuka awal abad 19, banyak warga Belanda di luar profesi tentara dan berjenis kelamin perempuan datang ke Hindia. Namun pada 1868 terjadi peristiwa pengenaskan di rumah sakit ini ketika di tanah Jawa dterjangkit epidemi kolera. Rumah sakait ini kedatangan pasien sampai tiga kali lipat yang tidak hanya dari Surabaya. kebanyakan adalah tentara yang pulang ekspedisi ke Bali.
RS ini kemudian direnovasi total dengan menambah banyak ruangan pada 1876. Gaya bangunanya berlanggam arsitektur Indisch imperial dengan langit-langit tinggi dan jendela untuk angin angin lebar. Kira-kira gaya bangunan itu mirip Stasiun Semut yang dibangun pada masa yang sama. selasarnya pajang menghubungkan antar ruangan. taman di dalam rumah sakit juga teduh. Banyak ditumbuhi pohon beringin dan trembesi. di bagian depoan pager keliling dengan gapura mirip terowongan. Sejak saat itulah penderita penyakit biasa dengan yang menular dipisahkan dalam ruangan tersendiri, sehingga jumlah kematian menjadi menurun. Bangunan ini bertahan sampai dihancurkan pada 1980-an. Ketika meletus perang 10 November 1945, Rumah sakit ini menjadi tumpuan utama para pejuang. Saat itu pimpinan rumah sakit ini adalah dr Soetopo. Para pejuang yang terluka diboyong ke Rumah Sakit Simpang. Sementara yang meninggal di rumah sakit ini terpaksa di makamkan di lapangan bagian belakang rumah sakit, karena tidak sempat memakamkan di pemakaman umum. saat ini lapangan itu menjadi parkir timur dan kolam renang. Rumah sakit Simpang juga digunakan menjadi markas pemuda dengan rapat mengatur strategi, sebagai tempat pertemuan dari pejuang daerah yang baru tiba lewat Stasiun Gubeng. Sampai pada pertengah November 1945, seluruh penghuni rumah sakit ini diungsikan ke luar kota akibat pejuang dipukul mundur. saat itu rumah sakit ini diambil alih Sekutu.
|
| < Sebeloemnja | Berikoetnja > |
|---|