Tjinderamata Soerabaia jang paling tersohor
Moeka
Kisah Majalah Panjebar Semangat PDF E-mail
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo   
Minggu, 05 Oktober 2008
Image Sisa kerja keras Pak Tom hanya tersisa Penjebar Semangat, meski orientasinya sudah berbeda. Namun, daya tahan puluhan tahun itulah yang patut diacungi jempol. Kamis pekan lalu, majalah Mingguan Bahasa Jawa, Panjebar Semangat PS), naik cetak lagi.

Kira-kira, kali ini adalah cetakan yang ke-3. 736 sejak majalah ini lahir 2 September 1933. Oplahnya masih membubung sekalipun usianya sudah hampir 78 tahun. Di antara 30.000 eksemplar setiap minggunya, sebagian dikirim ke Suriname hingga dibaca di Negeri Belanda. Inilah satu-satunya media massa tertua di Indonesia yang masih bisa dinikmati. menjadi koleksi sejumlah museum pers di negeri manca.

“Dalam sejarahnya, inilah majalah agitasi dan pembakar semangat rakyat umum yang terkuat,” kata Pj Pimpinan Redaksi PS, Moechtar, beberapa waktu lalu kepada saya. Karena masa itu tidak ada ‘rakyat kecil’ yang bisa berbahasa Indonesia kecuali orang sekolahan. Sementara semangat perjuangan harus dikobarkan seluas-luasnya, maka Pak Tom punya gagasan unik mendirikan majalah berbahasa rakyat, bahasa Jawa.

Memasuki lantai dua, gedung PS, saat ini saya merasakan roh perjuangan itu berhembus lagi. Mesin-mesin cetak tua masih digunakan. Bahkan peta jaringan distribusi majalah selebar tiga meter terbitan tahun 1930 tetap tertempel dan masih terpakai. Jakarta masih tertulis Batavia dan Buitenzorg untuk penyebutan Bogor. Majalah ini bukan majalah sebarangan. Bung Karno juga pernah terkesan dengan PS.

Di ulang tahun ke-20 PS pada 1953, presiden pertama ini memberi kesan ditulis tangan yang naskah aslinya saya lihat kemarin. Menurut catatan sang proklamator, PS adalah majalah yang berjasa membantu perjuangan nasional. Semoga pandjang umur. Begitu di akhir tulisanya. Edisi pertama penerbitan ini berkop Weekblad Djawa Oemoem Panjebar Semangat. Pada delapan halaman di edisi awal ini setidaknya cukup menggambarkan betapa tulisan majalah ini begitu beraroma agitatif, lebih-lebih di masa kolonial yang semua orang sembuyi di balik ketakutan.

Majalah yang mulanya selembar tabloid ini memiliki rubrik antara lain: Pergerakan, yang berisi liputan perkembangan gerakan kebangsaan dan upaya-upaya Belanda melakukan pencekalan, Taman Poetri yang dipenuhi tulisan tentang pemikiran perempuan, dan beberapa rubrik lain yang tidak kalah dalam memompa semangat. Saya mengutip beberapa berita di rubrik Pergerakan untuk menunjukkan betapa beraninya PS di masa itu.

Tulisan Bahasa Jawa dengan ejaan lama itu saya terjemahkan bebas sebagai berikut: Tentang PNI, “Dikabarkan bahwa Bung Hatta pergi ke Turen (Malang, Red) untuk menemui pimpinan PNI setempat. Beberapa pimpinan PNI datang. Namun, polisi membubarkan pertemuan karena dianggap ilegal. Roekoen Tani Bondowoso, Vergadering (perkumpulan) Rukun Tani Bondowoso yang diketuai Roeslan dibubarkan pemerintah karena petani dilarang memiliki perkumpulan. Yang melarang adalah wakil pemerintah.

Cobaan Iman, Tanggal 21 bulan ini (September 1933, Red) surat kabar Sin Po mengatakan priyayi yang menjadi pimpinan Partindo (Partai Indonesia, Red) dan PNI diundang di Kabupaten Tuban. Mereka ditanya agar memilih antara organisasi atau pekerjaanya sebagai aparat negara. Jika berat pekerjaan wajib keluar dari organisasi, menurut Sin Po banyak yang keluar dari organisasi. PS didirikan oleh motor pergerakan nasional Dr Soetomo alias pak Tom di paviliun timur Gedong Nasional Indonesia (GNI) Bubutan sekitar dua tahun setelah GNI berdiri. Kantornya satu gedung dengan NV Bank Nasional Indonesia. Bank pergerakan yang didirikan Pak Tom.

Markas PS tidak pernah pindah semantara bank itu gulkung tikar menyusul meredupnya gerakan di GNI. Sebelum mendirikan PS, Pak Tom mendirikan koran harian Soeara Oemoem dengan alamat redaksi yang sama. Namun, Soeara Oemoem tidak berumur panjang seperti PS. *** Kini, kalimat agitatif itu sudah tidak bisa ditemukan lagi pada penerbitan PS masa sekarang. “Mungkin hanya orang-orang tua yang masih memiliki roh PS sebagai pers perjuangan, saya generasi baru yang datang menjadi wartawan sejak 1978,” kata seorang wartawannya, Bambang Sudiyanto. Moechtar juga mengakui ada perubahan visi PS dari majalah agitatif ke media pelestari budaya Jawa. Namun, setidaknya mimpi Bung Karno supaya PS panjang umur kesampaian.

 
< Sebeloemnja   Berikoetnja >
 

Selamet Datang

Kaos


KODE 626


KODE 608


Kode 625

Pernak Pernik


P12


P23


P09


Kartoe Post


Serie Kembang Tjepoen


Serie Kramat Gantoeng

Daftar Societeit






kowe Loepa kata sandi?
Bloem djadi anggaoeta? Silaken daftar, zonder beaja.

Tetamoe

Saat ini ada 11 pengoendjoeng online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini35
mod_vvisit_counterKemarin57
mod_vvisit_counterBoelan Ini1159
mod_vvisit_counterSemoea35940

Tjorong Pelanggan


Soeara Pelanggan, Soeara Radja