| Kungfu di Kampung Kapasan |
|
|
| Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo | |
| Selasa, 18 November 2008 | |
|
Sayang sekarang sepi, hanya ada orang orang Tionghoa jompo yang kongkow di warung warung pojok kampung. Padahal ratusan tahun silam kampung ini terkenal begitu patriotis. Kungfu dan jiwa nasionalisme menjadikan Kapasan bukan sekadar kamp pecinan perantauan. Mari mampir..!
Hanya Klenteng Boen Bio satu-satunya landmark Kapasan sebagai Pencinan yang masih tersisa. Pemandangan lainnya? kampung ini nyaris seperti kampung lainnya. Mati setiap hari. Namun justru dari Bion Bio inilah eksotisme Pecinan Kapasan masih bisa dinikmati. Silakan masuk di kampung di balik kelenteng ini. Kalau anda mujur akan ditemukan sekelompok pemuda bermain kungfu dan barongsai. Jenis kesenian dan olahraga yang haram dipertontonkan zaman Orde Baru. Guru kungfu yang paling tersohor di kampung ini adalah Doni Jung. Saya pernah bertemu dia saat berjualan barang antik di Jl Kembang Jepun. Jung sebenarnya bukan asli warga Kapasan. Dia adalah peranakan Tionghoa yang nenak moyangnya terdampar di Solokuro, Lamongan. Desa gersang di pesisir utara Jatim. Orang tuanya berdagang barang kelontong. Jung yang usianya 60 tahun ini kemudian memperistri meme asal Kapasan yang kemudian tinggalah di kampung lawas ini. Kesehariannya dia mengajar kunfu dan berlatih barongsai.
Kapasan sudah terlanjur dikenal sebagai kampung kunfu. sebelum era jung ada puluhan pendekar kungfu yang disegani. Zaman Belanda Kapasan bahkan sulit ditundukkan. Politik pecah belah dengan menjadikan Kapasan sebagai Chinesche Kamp justru membuat kampung ini penuh warna perlawanan. Tidak hanya pendekar kungfu, Kapasan anad 17 hingga awal-awal kemerdekaan menjadi terkenal karena menjadi sumbu gerakan peranakan Tionghoa terbesar di Hindia Belanda Marilah ikuti kisah saya ini. Kemarin saya menemukan jejak wartawan pemberani era 1920- an justru dari tengah kampung Kapasan, di belakang Kelenteng Boen Bio Jl Kapasan. Sosok dari golongan pedagang yang hidup di pecinan. Namanya Liem Koen Hian, seorang jurnalis sekaligus motor nasionalisme etnis Tionghoa di Indonesia yang raib dalam ingatan sejarah. Sepenggal kiprahnya saya dapatkan tidak sengaja dari rak-rak buku kuno Perpustakaan Medayu Agung, Medokan Ayu, kemarin. Percayalah, di awal-awal abad 20 silam, Liem menjadi lakon nasionalisme warga keturunan Tionghoa dari rumahnya di Kapasan. “Orang-orang kampung ini pada jaman Belanda dulu dikenal dengan julukan Buaya Kapasan. Kumpulan orang-orang China yang sulit diatur Belanda. Jago kungfu, pemain barongsai. Tapi kritis dan pemberotak dengan caranya sendiri,” kata Ketua Yayasan Medayu Agung, Oei Hiem Hwie, kemarin. Aktivis Klenteng Boen Bio, Bingki Irawan, mengaku terkesan dengan sejarah Kampung Kapasan dan Boen Bio sebagai sentranya. “Orang Tionghoa Kapasan pernah memboikot perdagangan dengan orang Belanda. Tentu bisa dibayangkan Bagaimana orang Belanda kelimpungan memenuhi kebutuhan logistik masa itu,” kata anggota Presidium Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia ini. Bagitu bahayanya warga Kapasan sehingga Belanda harus menempatkan Kapten China (Pimpinan distrik Pecinan yang pro Belanda) 100 meter di sebelah timur Boen Bio. Rumah itu sekarang menjadi Hotel Ganefo. belanda juga mendirikan Pos polisi dengan nama Sectie V politie van Kapasan alias Polisi seksi V Kapasan. Namun dari kepungan pengawasan itu, dari sebuah rumah di tengah Kampung Kapasan, Liem bersama sejumlah wartawan lain, pada 25 September 1932 nekat mendirikan organisasi politik kaum Tionghoa pertama yang mencantumkan nama Indonesia. Organisasi itu bernama Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Bagaiamana kiprahnya ikuti seri tulisan berikutnya ! |
| < Sebeloemnja | Berikoetnja > |
|---|