Tjinderamata Soerabaia jang paling tersohor
Moeka
Kota Terbesar Asia Abad 19 PDF E-mail
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo   
Minggu, 02 November 2008

Image
Eks Gedung Internatio di Jembatan Merah
Buka lagi ingatan sejarah Anda. Saya baru tahu, suburnya kelompok-kelompok terdidik yang mengawal gerakan antipenjajah di kota ini tidak luput dari iklim Surabaya kala itu yang lebih maju ketimbang Batavia sekalipun.

Catatan How Dick, (Dick Howard W, Surabaya, City of Work; A Socioeconomic History, 1900-2000, Athens, OH: Ohio University Press (Monographs in International Studies 106, Southeast Asia Series)) setidaknya bisa menggambarkan, bahwa Surabaya saat itu mulai tumbuh menjadi kota istimewa sebagai sebuah kota pelabuhan modern, pedagangan, maupun industri terbesar sepanjang abad XIX.

Bahkan menurut tulisannya, kemajuan Surabaya tidak bisa tertandingi oleh kota-kota pelabuhan manapun di Asia, seperti Calcutta, Rangoon, Singapore, Bangkok, Hongkong dan Shanghai.

Kesaksian sejarahwan Surabaya berdarah Belanda, G.H von Vaber (Faber G.H von, Oud Soerabaia, Soerabaia, 1931), penduduk kota Surabaya menanjak sejak abad 19 hingga awal abad 20 hingga mengalahkan penduduk Batavia.

Soekarno juga sempat menuturkan penilainnya tentang Surabaya, kesan Bung Karno pada kota ini tertama semasa dirinya tinggal di kota ini sekitar 1916-1919. (Adams, Cindy.  Bung karno Penjambung Lidah Rakjat. Djakarta; PT Gunung Agung, 1966. Hal 45-46)

Kota pelabuhan yang sibuk dan ribut, lebih menyerupai kota New York. Pelabuhannya baik dan menjadi pusat perdagangan yang aktif. Ia menjadi kota industri yang penting, dengan pertukaran yang cepat dalam perdagangan gula, teh, tembakau, dan  kopi.

Ia menjadi kota tempat perlombaan dagang yang kuat dari orang orang Tionghoa yang cerdas ditambah arus yang besar dari para pelaut yang membawa berita berita dari segala penjuru dunia. Penduduknya semakin bertambah.

Terdiri dari pekerja pelabuhan, dan pekerja bengkel yang masih muda bersemangat menyala-nyala. Ia menjadi kota dimana bergejolak persaingan, pemboikotan, perkelahian di jalan-jalan.3

Image
Jl Pahlawan (Aloon-Aloonstraat) 2008
Ada satu bukti lagi tentang kemajuan Surabaya. Sebuah kutipan berita surat kabar lawas dari komuniats Arab, Alyaum, yang terbit tahun 1936. Reportasenya tidak hanya mencatat Surabaya yang tumbuh sebagai kota dagang besar, namun sekaligus pusat perjuangan. Berita itu ditulis dengan bahasa Melayu  pasar bercampur bahasa Belanda. Begini kutipannya:

Ville Lumiere... im groszen und ganzen... Groszstadt Soerabaja... moehoen toeroet bernjanji symphonie dari kota-kota doenia. Sebetoel djoega, Soerabaja jang sanggoep menoendjoekkan export jang besar, selajaknja pretendeert, mengakoei diri sebagai satoe metropool.

Grootstad idee. Kota kampioen dari king voetbal, bolwerk. Poesat pergerakan Priboemi. Kota dagang wahid. Soerabaja, baanbreekster dalam segala-galanja. Cumulatie dari segala misdaden poela. Soerabaja, - Wein, Weib und Liebe, und der Stadt Heirateten. (Surat kabar Alyaum, Kwee Kek Beng , 1936)

Pada 1906, ketika status Soerabaia ditetapkan sebagai gemeente, jumlah penduduk kota ini sudah mencapai 150.188, dengan perincian, penduduk Eropa 8.063, pribumi 124.473, Tionghoa 14.843, Arab 2.482, dan Timur Asing berjumlah 3274. Masa itu, ini adalah jumlah penduduk kota terbanyak di Hindia Belanda.

 
< Sebeloemnja   Berikoetnja >
 

Koleksi Atjak


P19


KODE 602


KODE 620


Kode 631


P07


P18


KODE 608


KODE 604


Tjorong Pelanggan


Soeara Pelanggan, Soeara Radja