Tjinderamata Soerabaia jang paling tersohor
Moeka arrow Pelesiran arrow Kampung Arab yang Menggetarkan
Kampung Arab yang Menggetarkan PDF E-mail
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo   
Kamis, 25 Desember 2008

Image
Ujung Jl Sasak, jantungnya Ampel
Perlawanan terhadap kolonialisme bukan cuma milik etnis Jawa atau Tionghoa. Komunitas Arab juga punya cara sendiri untuk melawan. Kalau bicara kampung arab, tengok lagi Ampel. Bangunannya, penghuninya tetap eksotik. Namun yang tidak kalah menarik adalah mengikuti kisah-kisah perjuangan kampung arab ini  pada abad 19.

 

KESAKSIAN Surabaya sebagai sentra gerakan perjuangan prakemerdekaan

setidaknya saya temukan bukti tertulisnya. Sebuah kutipan berita surat kabar kuno tahun 1936 menggambarkan Surabaya tumbuh sebagai kota dagang besar sekaligus pusat

perjuangan.

Berita itu ditulis dengan bahasa Melayu  pasar bercampur bahasa Belanda.

Begini kutipannya: Ville Lumiere... im groszen und ganzen... Groszstadt Soerabaja... moehoen toeroet bernjanji symphonie dari kota-kota doenia. Sebetoel djoega, Soerabaja jang sanggoep menoendjoekkan export jang besar, selajaknja pretendeert, mengakoei diri sebagai satoe metropool. Grootstad idee. Kota kampioen dari king voetbal, bolwerk

poesat pergerakan Priboemi. Kota dagang wahid. Soerabaja, baanbreekster

dalam segala- galanja. Cumulatie dari segala misdaden poela. Soerabaja, - Wein, Weib und Liebe, und der Stadt Heirateten.

Kutipan berita ini tidak saya dapatkan utuh karena wujud aslinya berada di salah satu museum di Negeri Belanda. Saya hanya melihat selembar dalam bentuk kopi digital dari

sumber bernama Kwee Kek Beng. Nama surat kabar itu adalah Alyaum. Sebuah penerbitan pers terkenal di masanya yang lahir dari Arabsche Kamp

(Kampung Arab) Surabaya di kawasan Ampel.

Dari cukilan berita ini, saya hendak menunjukkan sepenggal kiprah warga Indonesia keturunan Arab di masa-masa akhir pendudukan Belanda.

“Ini surat kabar paling berani dari kampung Arab, dengan mengutip bahwa Surabaya sebagai pusat pergerakan pribumi, artinya menyokong gerakan perlawanan. Dan pemerintah waktu itu pasti tidak suka,” kenang, Alyidrus, seorang tetua kawasan Ampel.

Image
Ujung barat Jl Sasak tak pernah sepi
Entah berapa jumlah penerbitan yang lahir dari kampung Arab saat itu. Satu yang terkenal sebuah penerbitan mingguan pada 1922-1926 mingguan Hadramaut setebal 20 halaman. Mingguan ini, dipimpin Idrus bin Umar Almashur kelahiran Tarim, Hadramaut. Redakturnya KH Abdullah Bin Nuh, ulama dan aktivis pendiri majelis taklim Al-Ihya Bogor.

Soal usaha penerbitan, warga keturunan Arab adalah jagonya. Hingga saat ini, toko-toko

buku yang di kawasan ini disebut toko kitab masih mudah ditemukan. Terutama di Jl Sasak dan Jl Panggung. Belum lagi puluhan percetakan yang juga mudah ditemukan di

gang-gang Ampel.

Awal abad 20, semangat perlawanan selalu mewarnai setiap penerbitan dari komunitas ini. Hadramaut diterbitkan untuk menghadang politik kolonial Belanda. Saya sempat melihat mingguan ini Arsip Nasional Jakarta berapa waktu lalu. Tulisan- tulisan tentang perlunya negara merdeka sudah kerap dimuat sekalipun kemerdekan

itu akhirnya baru tercapai duapuluh tahun kemudian.

Media ini didominasi tulisan berbahasa Arab. Seorang sastrawan dan sejarahwan Timur

Tengah Amir Syakib Arsalam, menuliskan kesannya soal Hadramaut. “Surat kabar ini

memiliki keindahan tata bahasa Arab. Paling baik di dunia, selain di negara-negara Arab,” tulis Arsalam.

Hotel Kemadjoan di Jl KH Mas Mansyur. Kekritisan Hadramaut terhadap pemerintah kolonial tak lepas dari ketajaman pemikiran Idrus bin Umar, salah satu pentolan mingguan ini. Ia juga tercatat aktif dalam rapat-rapat

pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1926 di rumah KH Ridwan Abdullah

di Bubutan.

Jurnalisme komunitas Arab ini juga menjadi dompet perjuangan kultural melawan kolonialisme. Sebut saja koran berbahasa Arab Bir Hoed dan majalah Boroboedoer pimpinan Abdullah Bin Alwi Alatas banyak membantu organisasi-organisasi Sarekat Islam, Muhammadiyah dan Al-Irsyad.

Disokong tokoh-tokoh komunitas Arab seperti Achmad Soekarti dan pendiri NU, Wahab Chasbullah perguruan Al-Irsyad menggelar muktamar alumni di Surabaya Maret 1930. Salah satunya menerbitkan sebuah mingguan berbahasa Arab.  

 

 
< Sebeloemnja   Berikoetnja >
 

Tjorong Pelanggan


Soeara Pelanggan, Soeara Radja