Tjinderamata Soerabaia jang paling tersohor
Moeka arrow Pelesiran arrow Foto Legendaris Dijepret di Mojokerto
Foto Legendaris Dijepret di Mojokerto PDF E-mail
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo   
Kamis, 10 Desember 2009
Image
Foto legendaris itu
Foto ini selalu muncul di setiap publikasi 10 November, menghiasi ilustrasi buku sejarah jika mengulas perang 10 November. Begitu seringnya dimunculkan, sampai-sampai foto ini mampu menyihir ingatan kolektif orang Indonesia, karena ketika menyebut nama Bung Tomo selalu yang teringat adalah sosok yang terekam dalam foto ini. Ilustrasinya Bung Tomo yang ceking terlihat gagah berpidato. berseragam militer, tangan kanan menunjuk ke arah atas, kumisnya tipis, mata tajam. Dihiasi payung bergaris-garis di atas kepalanya dan corong bundar di depan mulutnya. Namun siapa sangka jika foto itu sebenarnya bukan diambil saat perang 10 November 1945. Istri Bung Tomo, Sulistinah, juga mengakui jika foto itu bukan dijepret di Surabaya. “Itu yang motret IPPHOS, di lapangan Mojokerto. Waktu itu Bapak sedang berpidato. Nggak dibuat-buat, kok,’’ tanya ujar Sulistinah kepada saya. Anak kedua Bung Tomo, Bambang Sulistomo, membenarkan jika ayahnya tidak sempat diabadikan pada perang 10 November karena perannya yang penting sehingga posisinya selalu dirahasiakan. Lantas siapa yang memotret si Bung sehingga foto hitam putih ini mampu bercerita banyak tentang kegagahan 10 November? Saya mendatangi kantor IPPHOS Surabaya di Jl Urip Sumohardjo. IPPHOS adalah Indonesia Press Photo Service, biro dokumentasi foto satu satunya di zaman perang. Sayang IPPHOS Surabaya tidak aktif lagi kantornya tutup sejak lima tahun lalu. Tidak ada orang yang bisa memberi keterangan tentang foto ini. Saya kemudian menelusuri sejumlah literatur lain yang terkait foto legendaris Bung Tomo ini. Faktanya selama periode bulan bulan terakhir 1945, ketika perang Surabaya berkecamuk, ternyata tidak ada satupun surat kabar yang memuat foto Bung Tomo berpayung ini Foto itu pertama kali muncul karena dimuat dalam majalah dwi bahasa Tiongkok dan Indonesia, Nanjang Post, edisi Februari 1947. Di dalamnya dipampang foto Bung Tomo dengan pose legendaris ini. Dijelaskan dalam keterangan foto itu bahwa Bung Tomo sedang berpidato di lapangan Mojokerto dalam rangka mengumpulkan pakaian untuk korban Perang Surabaya. Saat itu Bung masih banyak warga Surabaya yang bertahan di pengungsian Mojokerto dan jatuh miskin. Sementara Surabaya sedang diduduki Belanda. Sulistinah hanya mengenal nama Mendur, wartawan foto IPPHOS yang mengambil gambar ‘Bapak’. Lantas siapa Mendur. Nama lengkapnya Alexius Mendur (1907-1984), pendiri Indonesia Press Photo Service (IPPHOS). Mendur adalah legenda fotografi pada zaman perang. Dialah yang menjepret hampir semua peristiwa bersejarah p[eriode 1945-1949. Dia satu satunya fotografi yang memotret pembacaan proklamasi RI 17 Agustus 1945. Tidak heran jika Bung Tomo kenal Mendur. Sebab keduanya bersahabat sejak lama karena sama sama menjadi wartawan. Di zaman Jepang Bung Tomo adalah pimpinan redaksi kantor Berita Domei yang kelak menjadi Kantor berita Antara di Surabaya. Sementara Mendur tercatat sebagai kepala desk foto kantor berita Domei Jakarta. Alex Mendur dan saudara kembarnya Frans Mendur mendirikan IPPHOS pada 2 Oktober 1946 di Jakarta. IPPHOS juga didirikan JK Umbas, FF Umbas, Alex Mamusung, dan Oscar Ganda. Namun foto Mendur itu begitu ‘berbunyi’. Tanpa mendengar pidato Bung Tomo dan hanya melihat foto itu, orang yang melihat seperti dibuat bergetar karena mampu menggambarkan semangat perlawanan. Foto itu memang salah satu foto terbaik yang pernah dibuat di jaman perjuangan kemerdekaan.
 
< Sebeloemnja   Berikoetnja >
 

Tjorong Pelanggan


Soeara Pelanggan, Soeara Radja