|
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo
|
|
Minggu, 02 November 2008 |
 Eks Gedung Internatio di Jembatan Merah Buka lagi ingatan sejarah Anda. Saya baru tahu, suburnya kelompok-kelompok terdidik yang mengawal gerakan antipenjajah di kota ini tidak luput dari iklim Surabaya kala itu yang lebih maju ketimbang Batavia sekalipun. Catatan How Dick, (Dick Howard W, Surabaya, City of Work; A Socioeconomic History, 1900-2000, Athens, OH: Ohio University Press (Monographs in International Studies 106, Southeast Asia Series)) setidaknya bisa menggambarkan, bahwa Surabaya saat itu mulai tumbuh menjadi kota istimewa sebagai sebuah kota pelabuhan modern, pedagangan, maupun industri terbesar sepanjang abad XIX.
|
|
|
Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo
|
|
Minggu, 02 November 2008 |
 Jl Veteran (Willemskade) 1923 Datanglah ke Surabaya sekarang! Nikmatilah keunikan kota ini. Tidak hanya kisah heroismenya yang dikenang, namun juga jejak sejarahnya yang tidak pernah habis dikabarkan. Sejak sebad silam sudah menyimpan rekaman panjang cita-cita Indonesia. Pergumulan ide dan aksi antipenjajahan, mewarnai periode-periode gerakan kebangsaan hingga Indonesia merdeka. |
|
|
<< Moelai < Sebeloemnja 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Berikoetnja > Achirnja >>
|